Musisi Jalanan

Lampu merah masih menyala. Asap knalpot mengepul seperti kepulan kabut pekat. Roda-roda kendaraan berdiam tertib, hingga mengular beberapa meter ke belakang.

“Bayarannya pak,” pinta seorang pengamen kecil kepada bapak-bapak yang ada di dalam mobil sedan silver.

Rudi Setiawan. Seorang eksekutif muda hendak mengantarkan anaknya ke sekolah. Ia melirik ke arah pengamen kecil itu. Tapi, perhatiannya kembali fokus pada timer lampu merah yang sedang berhitung mundur. Seperti bom waktu yang akan meledak. Para pengendara dengan berbagai urusan di kepalanya bersiap-siap untuk ‘kabur’. Jalanan pun semakin bising oleh suara-suara klakson yang saling besahutan.

Timer menunjukkan angka 15. Sebentar lagi lampu hijau akan menyala. Warna lampu yang sudah ditunggu-tunggu. Sepertinya, timer itu memang ditugaskan untuk mengatur kesabaran para pengendara. Pak Rudi bersiap menginjak pedal gasnya.

Tapi, pengamen kecil masih diam di tempat, memegangi pintu mobilnya. Ia kembali meliriknya dan menyuruhnya pergi dengan halus. Pengamen itu tetap bertahan. Selagi recehan belum tergenggam di tangan.

Timer menunjukkan angka 7. Pak Rudi mengenyahkan tangan si pengamen kecil dari pintu mobil hingga sedikit terdorong ke belakang.

Timer telah menunjukkan angka 5. Tiba-tiba, anaknya yang duduk di jok belakang, keluar dari mobil. Ia merogoh saku di baju seragam SD-nya. Lalu memberikan uang sepuluh ribu rupiah kepada pengamen kecil yang usianya sebaya dengannya.

Tersisa 3 detik lagi, sebelum lampu hijau benar-benar menyala.

“Wooy!” Seseorang berteriak dari arah belakang.

Continue reading “Musisi Jalanan”

Tetesan Keringat Ayah

Ayu melempar selembar amplop putih ke atas meja. Wajahnya berselimut amarah dan kekecewaan.

“Ayah bisa kerja lebih keras lagi gak sih?!” tanya Ayu kepada ayahnya yang sedang duduk sambil menyeka keringat, selepas pulang berjualan.

Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut manis seorang siswi SMA kelas 12, yang selalu mendapatkan nilai 90 dalam setiap mata pelajaran di sekolahnya.

“Memangnya kenapa, Yu?” tanya ayahnya heran.

“Coba ayah baca sendiri saja isi suratnya.” Ayu mendengus, lalu pergi ke kamarnya.

Ayahnya membuka surat itu. Surat yang di depannya tertulis Surat Pemberitahuan. Matanya yang minus agak kesulitan membaca tulisannya. Tapi ia coba membacanya perlahan-lahan, kata demi kata.

“Kepada Yth.
Bapak Sukoco

Kami selaku pihak sekolah ingin memberitahukan, bahwa anak bapak yang bernama Ayu Pertiwi belum bisa mendapatkan hasil kelulusannya. Dikarenakan masih ada tunggakan biaya yang belum dilunasi sebesar lima juta rupiah. Oleh karena itu, saya harap bapak bisa segera melunasi pembayarannya, paling lambat besok siang. Kami tunggu kehadirannya. Terima kasih.

Ttd,
Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Harapan.”

Continue reading “Tetesan Keringat Ayah”

Kenangan di Kereta Malam

Jugijagijugijagijug …
Kereta mulai melaju, tepat pukul 20.30. Aku menyandarkan kepalaku pada kursi kereta yang lumayan empuk. Jendela kereta di samping kananku seperti tengah memutar sebuah film dengan tempo cepat. Dengan latar pohon-pohon dan rumah-rumah. Tanpa ada aktor yang bermain di dalamnya. Barangkali itu adalah ‘film’ yang harus kutonton selama perjalanan. Dan, aku hanya bisa memilih: untuk menikmati atau mengabaikan setiap jalan ceritanya.

Air hujan seketika mulai menderas. Kaca kereta mulai dipenuhi kumpulan rintik air. Ini kedua kalinya aku berada di dalam kereta. Sebenarnya aku tak ingin lagi menaiki kereta. Karena … ah sudahlah. Saat ini, aku hanya ingin menikmati perjalanan, dengan tenang.

Aku segera memasangkan headset ke telinga. Kudengarkan lagunya Ebiet G. Ade, yang berjudul masih ada waktu. Tak ada alasan khusus kenapa aku mendengarkan lagu itu. Hanya saja, lirik lagunya selalu berhasil membuat diriku terenyuh, dalam menjalani kisah hidup yang semu ini. Akhirnya, aku terlelap tidur diiringi alunan lagu tersebut.

Beberapa menit kemudian, akuĀ  terbangun. Dan, sedikit kaget ketika melihat seorang bapak-bapak yang duduk di samping kiriku. Padahal, sebelumnya, kursi ini masih kosong. Semoga bapak itu bisa memahami kondisiku saat ini. Semoga dia tidak mengganggu ketenanganku.

Syukurlah, ia tampak sibuk dengan ponselnya.

Kriing … Kriing …

Baru saja aku menarik napas lega, tiba-tiba suara panggilan telepon berbunyi nyaring dari arah ponselnya. Ia mulai mengobrol dengan seseorang di ujung sana. Tapi apa boleh buat, ini bukan kendaraan pribadiku.

Bapak itu memakai setelan jas rapi dan menyebarkan aroma parfum yang terasa asing bagiku. Jika kutebak, Ia mirip seperti bapak-bapak yang menjabat sebagai penyambung lidah rakyat. Entahlah, benar atau tidak. Apa mungkin, ada pejabat yang mau naik transportasi umum? batinku.

Suara obrolannya semakin kencang saja. Bahkan headset yang kupasang, tidak sanggup meredam suaranya yang berdesibel tinggi itu.

Kudengar ia membicarakan tentang anggaran negara. Hmm … sepertinya tebakanku benar. Obrolannya semakin serius. Suaranya lumayan memekakkan telingaku. Jika saja ini kendaraan pribadiku, mungkin, aku sudah mempersilakannya turun. Meskipun sebenarnya, aku tidak berani menegurnya. Selain dia lebih tua, juga memiliki jabatan tinggi di negara. Tetap saja aku hanya rakyat biasa, yang bisanya hanya manggut-manggut dan pasrah.

Dari arah depan, tampak seorang ibu-ibu muda yang tengah hamil besar, berjalan tergopoh-gopoh ke arah barisan kursi kami. Ia tampak celingak-celinguk kebingungan mencari tempat duduk. Semua tempat duduk sudah terisi penuh oleh penumpang lain. Ia tampak pasrah dan berdiri di samping bapak-bapak tadi, yang berada di sampingku. Namun, bapak-bapak itu sibuk dengan perbincangan di teleponnya. Tanpa memperhatikan ibu-ibu hamil tersebut.

Continue reading “Kenangan di Kereta Malam”

Rindu Yang Janggal

Aku memandangi tubuh anakku yang bersimbah darah. Tubuhnya tergeletak tak berdaya di atas aspal jalan. Mobil yang menghantam tubuhnya berhasil kabur dengan selamat. Tapi keperihan hatiku tidak bisa kabur begitu saja. Aku merasa gagal sebagai orang tua.

Selembar foto terangsur dari saku bajunya. Foto yang sangat kukenal. Seorang ibu yang telah menyakitiku beberapa tahun yang lalu. Ternyata anakku telah mengambilnya dari kamarku.

Jika saja aku mengiyakan keinginannya, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Jika saja dulu aku tidak pergi dari rumah karena kesal kepada ibu, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

~ooo~

35 tahun yang lalu aku lahir dari rahim seorang ibu yang berprofesi sebagai petinju amatir. Dia adalah sosok yang pantang menyerah. Beberapa kali ia menjuarai pertandingan yang cukup bergengsi di Bandung. Bahkan ketika baru satu bulan ia mengandungku, ia masih saja berkutat dengan profesinya. Alasannya hanya satu. Demi memenuhi kebutuhan hidup sebagai single mother. Karena semenjak lahir, aku tidak pernah tahu sosok ayahku seperti apa. Ibu selalu enggan menceritakannya.

Di rumah, ibuku adalah orang yang tegas dan disiplin. Tapi ia juga memiliki sifat keibuan. Semenjak kecil aku selalu diminta olehnya untuk menjadi seorang petinju. Tapi aku selalu menolaknya. Aku samasekali tidak tertarik dengan tinju. Aku lebih menyukai sastra dan keindahan. Aku bahkan beberapa kali memintanya untuk berhenti dari dunia tinju karena tidak tega melihatnya terluka. Tapi dia tetap kekeh dengan komitmennya.

Suatu malam, tepatnya pukul 20.01 aku tiba di rumah bersama seorang wanita yang belum lama menjadi pacarku. Dan itu adalah kali pertama aku membawanya ke rumah. Aku menggandeng mesra tangannya sambil mempersilakannya masuk. Tapi baru saja tiga langkah aku melewati pintu, sekelebat bayangan ibuku muncul dari arah samping dan, “Braak!” Pukulan jep keras mendarat tepat di rahang kiriku. Hingga badanku jatuh terhuyung-huyung.

Setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Pandanganku tiba-tiba samar. Yang kudengar hanyalah teriakan histeris pacarku dan bentakan ibu yang menyuruhnya untuk pulang. Aku masih bisa mengedipkan mata. Tapi pandanganku semakin samar dan semakin samar saja. Hingga gelap pekat dan hanya hening yang kudengar.

~ooo~

Continue reading “Rindu Yang Janggal”

Jangan Salahkan Guru

Jam menunjukkan pukul 06.30. Ilham baru saja selesai mengelap sepeda di depan rumahnya hingga mengkilat. Baju seragam SD jahitan ibunya sudah rapi dikenakannya. Juga tas gendong berisi buku-buku pelajaran yang tebal telah menempel di punggungnya. Ia menaiki sepedanya dan bersegera berangkat ke sekolah.

Tiba-tiba Bapaknya memanggil dari belakang.

“Ilham tunggu dulu!” teriak bapaknya.

Ilham menengok.

“Apa pak?” tanya Ilham kaget.

“Mulai sekarang kamu ke sekolahnya jalan kaki aja ya” kata Ayahnya yang masih setengah mengantuk sisa bergadang dengan teman-temannya.

“Memangnya kenapa pak?” tanya Ilham heran.

“Bapak mau jual sepedanya. Kemarin Bapak kalah taruhan”

“Tapi pak, jarak ke sekolah kan jauh. Kalau jalan kaki pasti capek”

“Ah udah gak usah protes. Pokoknya kamu harus nurut”

“Jangan paaak..”

“Aah ayo cepet turun. Mau bapak jual ke pasar sepedanya” kata bapaknya memaksa sambil menarik-narik sepeda yang sedang dinaikinya.

Bruuk.. Ilham terjatuh dan tertimpa sepedanya.

“Aduuuh”

“Makanya kamu nurut. Jadi kan ga akan jatuh. Sudah sana pergi ke sekolah”

“Kembalikan sepedanya paak” pinta ilham sambil terisak.

Lalu bapaknya pergi membawa sepeda itu ke pasar. Ilham terus saja menangis. Beberapa saat kemudian ibunya datang menghampirinya.

“Kamu kenapa nak?” tanya Ibunya.

“Bapak mau jual sepedaku bu”

“Hmm.. Sudah jangan nangis lagi ya. Hari ini kamu ke sekolahnya jalan kaki saja. Nanti ibu yang bilang sama bapak. Nih ibu sudah bungkusin bekal buat kamu” kata ibunya sambil mengusap air mata Ilham.

“Baik bu” jawab ilham sambil memasukan bekal makanannya.

“Kamu hati-hati ya nak” kata ibunya sambil mencium kening Ilham.

“Iya bu” jawab ilham lalu bergegas pergi.

Ilham berlari menuju sekolahnya. Air matanya sedikit-sedikit menetes beriringan dengan langkah kakinya yang cepat. Nafasnya menderu diburu waktu. Ia sudah terlambat. Tapi dari sorot matanya takĀ  nampak rasa putus asa samasekali.

Lama kelamaan keringatnya mulai bercucuran membasahi baju seragamnya. Ada kesal dalam dadanya. Tapi bukan karena ayahnya. Itu karena ia tidak ingin jika terus-terusan terlambat ke sekolah.

Langkahnya melambat dan semakin melambat. Nafasnya semakin terasa sesak. Mukanya sudah pucat dan penuh dengan keringat. Betisnya tak lagi kuat dan mulai keram. Hingga ia pun menghentikan langkahnya dan beristirahat sejenak di pinggir jalan.

Ilham memijat-mijat betisnya sambil menyeka keringat yang sesekali mengalir di keningnya. Lalu ia berusaha berdiri lagi. Melanjutkan langkah kakinya dengan berjalan sedikit terpincang-pincang.

Akhirnya ia sampai juga di sekolah setelah menempuh jarak dua puluh kilometer.

Tok tok tok..

“Maaf bu saya telat” kata Ilham sedikit menahan sakit.

Bu guru yang tengah menerangkan pelajaran menengok ke arah ilham dengan tatapan sinis.

“Nama kamu siapa?” tanya bu Guru dengan tatapan serius.

“Nama saya ilham bu” jawab ilham pelan.

“Kenapa bisa telat? Kamu tidak menghargai saya sebagai guru baru disini”

“Maaf bu tadi saya kesini jalan kaki. Rumah saya jauh bu”

“Ah, itu cuma alasan kamu saja. Kamu sudah sangat telat. Sekarang silakan kamu berdiri di depan kelas” suruh Bu Guru.

“Aduh. Tapi bu..”

“Sudah. cepat!”

Continue reading “Jangan Salahkan Guru”

Satu Jam yang Sangat Berarti

Seorang kakek duduk di kursi taman. Ia melihat seseorang berjalan mendekat sambil mendorong gerobaknya. Si kakek pun menyapanya.

“Anak muda, berapa harga rujak itu?” tanya Si Kakek.

“Lima ribu kek. Kakek mau beli?”

“Iya saya beli satu ya”

“Baik tunggu sebentar kek”

“Ini rujaknya. Ngomong-ngomong sedang apa sendirian di taman kek?” tanya pemuda itu sambil menyodorkan sebungkus rujak.

“Iya. Saya senang sekali duduk disini, udaranya sejuk. Dulu sering ajak anak saya kesini”

“Oh begitu kek. Lalu sekarang anak kakek dimana?”

“Mari temani kakek ngobrol”

Pemuda itu pun duduk dan mendengarkan cerita si kakek.

“Sekarang dia sudah dewasa. Usianya mungkin sepantaran denganmu. Dia juga sudah bekerja di satu perusahaan”

“Kenapa kakek ngga ajak anaknya buat temani kakek disini?”

“Dia sangat sibuk anak muda” jawab kakek tersenyum.

“Emm.. Tapi kan orang yang kerja di perusahaan juga ada hari liburnya kek, ngga seperti saya yang harus berusaha kerja tiap hari”

“Iya, kalau libur dia selalu pergi bersama teman-temannya” jawab kakek tersenyum lagi.

“Tapi, bukankah dia bisa menyempatkan waktunya meski cuma sebentar?”

“Sekarang dia sudah punya kehidupannya sendiri. Walaupun kakek rindu sekali padanya” jawab kakek sambil memandang nanar sebungkus rujak yang dipegangnya.

“Kalau saya jadi anak kakek, saya akan berusaha menyempatkan diri buat temani kakek disini”

“Kamu baik sekali anak muda. Andai dia sepertimu” lalu bulir air mata menetes dari mata sayu nya.

Seketika suasana menjadi hening.

Continue reading “Satu Jam yang Sangat Berarti”

Akibat Salah Paham

Budi melihat seorang wanita beradu mulut dengan seorang pria bernama Andi di pinggir jalan. Hingga wanita itu pergi sambil menangis tersedu-sedu. Budi merasa perlu membantunya dan dengan gagah berjalan menghampiri Andi.

“Hey! Beraninya sama perempuan” kata Budi dengan nada marah.

“Anda siapa?” jawab Andi sedikit risih

“Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma mau menolong dia” kata Budi sambil menunjuk wanita tadi yang berlari masuk ke rumahnya.

“Jangan ikut campur lah. Ini urusan kami” jawab Andi berusaha tidak memperdulikannya.

“Tapi sekarang jadi urusan saya juga” kata Budi lalu tangannya mendorong Andi.

“Apa-apaan mas” Andi tidak terima.

“Rasakan ini” teriak Budi menghantamkan pukulan tepat di pipi kiri Andi.

Andi meringis, lalu pukulan balasan melayang cepat tapi Budi segera menangkis dengan tangan kirinya. Seketika tangan kanannya melancarkan pukulan balik hingga Andi terjatuh.

Continue reading “Akibat Salah Paham”